Popular Posts

Friday, January 6, 2017

Macam-Macam Qashasul dalam Qur’an

Dari seluruh Qashas yang ada dalam al-Qur’an, dapat dibedakan menjadi tiga macam :
a.    Qashashul Anbiya’ atau kisah-kisah Nabi-Nabi. Macam yang pertama ini mengisahkan da’wah para Rasul, mu’jizat-mu’jizat mereka dan sikap serta akibat dari umat yang menerima da’wah maupun yang menolaknya
b.    Qashash dari selain Nabi atau yang tidak dapat dipastikan kenabiannya seperti kisah Thalut (si Jangkung), Jalut, dua anank Adam, Ashbablu kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashabuh Sabti, Ashabul Uhdud, Ashabul Fil, Maryam, Haman, dll.
c.    Qashash tentang peristiwa di zaman Rasulullah SAW. Seperti perang Badar, Uhud, Hunain, Bai’tur Ridwan,dll.

Perencanaan Tata Letak

PEMBAHASAN
A.    Pentingnya  Strategi Keputusan Tata Letak
Tata letak merupakan satu keputusan yang penting yang menentukan efisiensi sebuah operasi dalam jangka panjang. Tata letak memiliki banyak dampak strategi karena tata letak menentukan daya saing perusahaan dalam hal kapasitas, proses, fleksibilitas, dan biaya, serta kualitas lingkungan kerja, kontak pelanggan, dan citra perusahaan. Tata letak yang efektif dapat membantu organisasi mencapai sebuah strategi yang menunjang differensiasi, biaya rendah dan respon cepat.
Tujuan dari strategi tata letak adalah untuk membangun tata letak yang ekonomis yang memenuhi kebutuhan persaingan perusahaan. Secara lebih terperinci layout fasilitas bertujuan untuk mengguanakan ruangan yang tersedian seefektif mungkin, meminimumkan biaya pengangan bahan dan jarak angkut, menciptakan kesinambungan dalam proses produksi, menyederhanakan proses produksi, mendorong semangat dan efektivitas kerja para karyawan dan barang-barang yang sedang diproses, serta menghindari berbagai bentuk pemborosan.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam stategi tata letak adalah sebagai berikut:
1.      Utilisasi ruang, peralatan, dan orang yang lebih tinggi.
2.      Aliran informasi, barang atau orang yang lebih baik.
3.      Moral karyawan yang lebih baik, juga kondisi lingkungan kerja yang lebih aman.
4.      Interaksi dengan pelanggan yang lebih baik.
5.      Fleksibilitas (bagaimanapun kondisi tata letak yang ada sekarang, tata letak tersebut akan perlu diubah).
Dan tata letak yang baik perlu menetapkan beberapa hal berikut:
1.      Peralatan penanganan bahan.
2.      Kapasitas dan persyaratan luas ruang.
3.      Lingkungan hidup dan estetika.
4.      Aliran informasi.
5.      Biaya perpindahan antar-wilayah kerja yang berbeda.
B.     Perencanaan Layout
Langkah pertama yang harus dilaksanakan dalam perencanaan layout adalah melihat pada perencanaan produk berupa spesifikasi yang menunjukkan fungsi-fungsi yang dimiliki produk tersebut. Manajemen selalu berusaha membuat barang-barang dengan kualitas yang baik dan biaya serendah mungkin, sehingga perlu ditentukan perencanaan produk dengan layout berdasarkan perbandingan teknis dan biayanya.
Langkah selanjutnya dalam merencanakan layout adalah menetapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Untuk melaksanakan ini, maka faktor efisiensi menunjukkan bahwa pabrik mungkin tidak beroperasi pada kapasitas penuh (100%), dan hal ini menimbulkan kekeliruan sceduling, semakin rendah faktor efisiensi, semakin besar kapasitas yang dibutuhkan. Jadi apabila diperlukan 1000 satuan produk dan tiap satuan produk membutuhkan 0,4 jam kerja, maka total jam mesin yang dibutuhkan yaitu:
             (apabila faktor efisiensinya adalah 70%)
Waktu 0,4 jam kerja mesin per satuan produk diperoleh dari waktu standar atau waktu yang diperkirakan dengan memerhatikan cadangan kerusakan 4%, mak hal ini akan menaikkan total jam kerja mesin yang dibutuhkan menjadi:
Apabila digunakan 40 jam kerja per minggu dalam setiap tahun, maka jumlah kebutuhan mesinya :
C.    Tipe-Tipe Tata Letak
1.      Tata letak dengan posisi tetap
Dalam tata letak dengan posisi tetap (fixed-position layout), proyek tetap berada dalam satu tempat, sementara para pekerja dan peralatan datang pada tempat tersebut. Contoh tipe proyek seperti ini adalah proyek pembangunan kapal, jalan layang, jembatan, rumah, dan sumur minyak bumi.
Kelebihan layout dengan posisi tetap:
a.       Fleksibel dapat ditetapkan pada setiap pekerjaan yang berbeda-beda.
b.      Dapat diletakkan dimana saja sesuai kebutuhan.
c.       Tidak memerlukan bangunan pabrik.
Kelemahan layout dengan posisi tetap:
a.       Tidak ada standar atau pedoman yang jelas untuk merencanakan layoutnya
b.       Kegiatan pengawasan harus sering dilakukan dan relatif sulit
c.       Biasanya keamanan barang-barang di sekitar pembuatan barang harus dijaga dengan baik karena rawan pencurian.
2.      Tata letak yang berorientasi pada proses
Tat letak yang berorientasi pada proses (process-oriented layout) dapat menangani beragam barang atau jasa secara bersamaan. Ini merupakan cara tradisional untuk mendukung sebuah strategi diferensiasi produk. Tata letak ini paling efisien di saat pembuatan produk yang memiliki persyaratan berbeda, atau disaat penanganan pelanggan, pasien atau klien dengan kebutuhan yang berbeda. Tata letak yang berorientasi pada proses biasanya memiliki strategi volume rendah dengan variasi tinggi  contoh yang baik bagi tata letak yang berorientasi pada proses adalah rumah sakit atau klinik.
      Kelebihan dari tata letak ini diantaranya:
a.       Adanya fleksibilitas peralatan dan penugasan tenaga kerja.
b.      Sangat baik untuk menangani produksi komponen dalam batch yang kecil, atau disebut job lot, dan untuk memproduksi beragam komponen dalam ukuran dan bentuk yang berbeda.
Kelemahan tata letak yang berorientasi proses terletak pada Peralatan yang biasanya memiliki kegunaan umum. Pesanan akan menghabiskan waktu lebih lama untuk berpindah dalam sistem karena penjadwalan yang sulit, penyetelan mesin yang berubah, dan penanganan bahan yang unik.
Dalam mendesain sebuah tata letak yang berorientasi pada proses, stategi yang paling lazim digunakan untuk menyusun departemen atau stasiun kerja adalah untuk meminimalkan biaya penanganan bahan. Dalam pendekatan ini, biaya penanganan bahan tergantung kepada:
a.       Jumlah muatan (orang) yang harus dipindahkan diantara dua departemen selama bebrapa waktu
b.      Biaya memindahkan muatan (orang) yang berkaitan dengan jarak antar-departemen.
Tujuan fungsi tersebutdapat dinyatakan dengan rumus:
Biaya minimum = Xij Cij
Dimana n = jumlah total stasiun kerja atau departemen
                                    I,j = masing-masing departemen
                                    Xij= jumlah beban yang dipindahkan dari departemen i ke departemen j
                                    Cij=biaya untuk memindahkan beban antara departemen i dan departemen j


3.      Tata letak kantor
Perbedaan utama antara tata letak kantor (office Layout) dan pabrik adalah pada kepentingan informasi. Walaupun pergerakan informasi sekarang meningkat menjadi elektronik, analisis tata letak kantor masih memerlukan pendekatan yang berdasarkan tugas. Oleh karena itu, para menejer menguji pola komunikasi baik secara elektronik maupun tradisional, kebutuhan pemisahan dan kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi efektivitas karyawan. Misalnya seorang direktur teknologi itu seharusnya: a. Dekat dengan wilayah para insinyur, b. Kurang dekat dengan sekretaris dan pusat data, c. Tidak perlu dekat dengan ruang fotokopi dan gudang.
4.      Tata letak ritel
Tata letak ritel (retail layout) didasarkan pada ide bahwa penjualan dan keuntungan bervariasi tergantung kepada produk yang dapat menarik perhatian pelanggan. Jadi, banyak menejer ritel mencoba untuk memperlihatkan produk-produk kepada pelanggan sebanyak mungkin. Karena semakin besar produk yang dilihat oleh pelanggan, maka penjualan akan semakin tinggi dan tingkat pengambilan investasi juga semakin tinggi.
Berikut lima ide yang digunakan dalam menentukan pengaturan toko secara keseluruhan:
a.       Tempatkan barang yang sering dibeli oleh pelanggan disekitar batas luar toko.
b.      Gunakan lokasi strategis untuk barang-barang yang menarik dan memiliki nilai keuntungan besar. Seperti peralatan rumah tangga, kosmetik dan shampo.
c.       Distribusikan yang dikenal oleh pedagang sebagai “produk yang kuat” yaitu barang yang menjadi alasan utama pengunjung berbelanja.
d.      Gunakan lokasi di ujung lorong karena mereka memiliki tingkat eksposur yang tinggi.
e.       Sampaikan misi toko dengan memilih posisi bagian yang akan menjadi perhatian pertama pelanggan.
Tujuan utama dari tata letak ritel adalah untuk memaksimalkan keuntungan luas lantai kaki persegi. Untuk mencapai tujuan tersebut ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan diantaranya:
a.       Kondisi yang berkenaan dengan lingkungan yaitu karakteristik latar belakang seperti pencahayaan, suara, bau dan suhu.
b.      Tata letak yang luas dan mempunyai fungsi meliputi rencana pola sirkulasi pelanggan karakteristik lorong dan pengelompokan produk.
c.       Tanda, simbol dan patung yang merupakan karakteristik desain bangunan yang memiliki arti sosial.
5.      Tata letak gudang
Tujuan tata letak gudang (warehouse layout) adalah untuk menemukan titik optimal diantara biaya penanganan bahan dan biaya-biaya yang berkaitan dengan luas ruang dalam gudang. Sebagai konsekuensinya, tugas manajemen adalah memaksimalkan penggunaan setiap kotak dalam gudang yaitu memanfaatkan volume penuhnya sambil mempertahankan biaya penanganan bahan yang rendah. Biaya penanganan bahan adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan transportasi barang masuk, penyimpanan dan transportasi bahan keluar untuk dimasukkan dalam gudang. Biaya-biaya ini meliputi peralatan, orang, bahan, biaya pengawasan, asuransi, dan penyusutan, tata letak gudang yang efektif juga meminimalkan kerusakan bahan dalam gudang.
Ada dua istilah yang digunakan dalam tat letak gudang dan penyimpanan yaitu:
Cross-Docking berarti menghindari penempatan bahan atau barang-barang dalam gudang dengan langsung memproses mereka saat diterima.
Dalam Customizing gudang dapat menjadi tempat dimana nilai ditambahkan melalui customizing ini. Kustomisasi gudang biasanya merupakan cara yang berguna untuk menghasilkan keunggulan bersaing dalam pasar dimana terdapat perubahan produk yang sangat cepat.

6.      Tata letak proses produksi berulang dan berorientasi pada produk
Tata letak yang berorientasi pada produk disusun di sekeliling produk atau lembaga yang sama dengan memiliki volume tinggi, dan bervariasi rendah. Terdapat dua jenis tata letak yang berorientasi pada produk, yaitu lini pabrikasi dan lini perakitan. Lini pabrikasi membuat komponen seperti ban mobil atau komponen logam sebuah kulkas pada mesin. Sedangkan lini perakitan meletakkan komponen yang dipabrikasi secara bersamaan pada sekumpulan stasiun kerja. Lini pabrikasi cenderung dipacu oleh mesin dan membutuhkan perubahan mekanis dan rekayasa untuk membuat keseimbangan. Sedangkan lini perakitan cenderung dipacu oleh tugas yang diberikan kepada karyawan atau pada stasiun kerja. Karena itu, lini  perakitan dapat diseimbangkan dengan memindahkan satu tugas dari satu orang ke orang lainnya.
      Tujuan manajemen adalah untuk menciptakan aliran yang halus dan kontinu di sepanjang lini perakitan dengan waktu kosong yang minimal pada setiap stasiun kerja. Lini perakitan yang seimbang memiliki keunggulan dari utilisasi karyawan dan fasilitas yang tinggi dan kesamaan beban kerja antar karyawan. Beberapa kontrak dari serikat pekerja masyarakat bahwa beban kerja harus sama atau hampir sama di antara pekerja yang berada pada lini perakitan yang sama.. tujuan tata letak yang berorientasi pada produk adalah untuk meminimalkan ketidakseimbangan dalam lini pabrikasi atau perakitan.
      Keuntungan utama tata letak yang berorientasi pada produk adalah:
1.      Rendahnya biaya variable per unit yang biasanya dikaitkan dengan produk yang terstandarisasi dan bervolume tinggi.
2.      Biaya penanganan bahan yang rendah.
3.      Mengurangi persediaan barang setengah jadi.
4.      Proses pelatihan dan pengawasan yang lebih mudah.
5.      Hasil keluaran produksi yang lebih cepat.
Kelemahan tata letak yang berorientasi pada produk adalah:
1.      Dibutuhkan volume yang tinggi.
2.      Adanya pekerjaan yang harus berhenti pada setiap titik mengakibatkan seluruh operasi pada lini yang sama juga tergangggu.
3.      Fleksibilitas yang ada kurang saat menangani beragam produk atau tingkat produksi yang berbeda.



DAFTAR PUSTAKA
Hani Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan Operasi, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta, 2000.
Hery Prasetya, Fikri Lukiastuti, Manajemen Operasi, Medpress, Yogyakarta, 2009.
Jay Heizer, Barry Render, Operations Mnanagement, ed. Ke7, Salemba Empat, Jakarta,2005.

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM BISNIS

PEMBAHASAN

A.    Definisi Kepemimpinan Transformasional
Dalam tafsiran Islam Transformatif , kemodernan sebenarnya identik dengan barat. Dan Barat sendiri identik dengan kapitalisme. Sementara kapitalisme adalah orang tua dan menjadi ideology dari imperialism, yang dalam dunia dewasa ini (secara langsung atau tidak, dalam bentuk kekerasan atau damai) telah mendominasi dan membuat Dunia Islam menjadi miskin dan terbelakang. Membebaskan masyarakat muslim yang miskin dan terlakang dari belenggu dominasi structural inilah, yang menjadi agenda kalanganIslam Transformatif.
Menurut Ordway Teod dalam bukunya ”The Art Of Leadership” menyebutkan bahwa Kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi orang-orang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Kepemimpinan dapat terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilaku orang lain ke arah tercapainya suatu tujuan tertentu
Young mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu, berdasarkan akseptasi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus.      Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi bawahan atau kelompok untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Bass mengemukakan pendapat bahwa kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu. Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Pada akhirnya bawahan akan termotivasi untuk melakukan lebih dari yang diharapkan.
Selain itu, O’Leary juga mengemukakan pendapatnya bahwa kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru. Kepemimpinan transformasional pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik dari apa yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau keyakinan diri bawahan yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional mencakup upaya perubahan terhadap bawahan untuk berbuat lebih positif atau lebih baik dari apa yang biasa dikerjakan yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.

B.     Pentingnya Kepemimpinan Transformasional dalam Bisnis 
Kepemimpinan sebagai sebuah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu dan kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan dengan mengacu pada perilaku tugas yang harus ada di dalam seorang pemimpin, yakni yang terkait sejauh mana pemimpin mengarahkan karyawannya dengan memberitahukan pada mereka mengenai apa, kapan, dimana, dan bagaiman suatu tugas harus dilaksanakan.
Sebagai seorang pemimpin Islam, kepribadian merupakan hal yang sangat penting, karena esensi / muatan inti kepemimpinan diantaranya adalah kepribadian seseorang pemimpin yang memiliki kepribadian akan tercermin di dalam sikap dan perilakunya dalam melaksanakan kepemimpinannya terhadap karyawan.
Pemimpin yang berada dalam ridla Allah SWT, yaitu para pemimpin yang memenuhi criteria-kriteria sebagai berikut:
1.      Mencintai kebenaran dan hanya takut pada Allah SWT.
2.      Dapat dipercaya, bersedia dan mampu mempercayai org lain.
3.      Memiliki kemampuan dalam bidangnya dan berpandangan luas didasari kecerdasan (intelegensi) yang memadai.
4.      Senang bergaul, ramah tamah, suka menolong dan  member petunjuk serta terbuka pada kritik orang lain.
5.      Memiliki semangat untuk maju, semangat pengandian dan kesetiakawanan, serta kreatif dan penuh inisiatif.
6.      Bertanggung jawab dalam mengambil keputusan dan konsekuen, berdisiplin serta bijaksana.
7.      Aktif memelihara kesehatan jasmani dan rohani.
Pemimpin mempuyai tanggung jawab menciptakan kondisi-kondisi dan perangsang-perangsang yang memotivasi anggota mencapai tujuan yang ditentukan. Motivasi atau dorongan dapat berdampak pada perilaku positif yaitu memberikan semangat kerja ataupun berdampak negatif yaitu tekanan. Gaya kepemimpinan seseorang sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mempengaruhi individu atau kelompok, agar perilaku bawahan sesuai dengan tujuan organisasi, maka harus ada perpaduan antara motivasi akan pemenuhan kebutuhan mereka sendiri dan permintaan organisasi. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mengakui kekuatan-kekuatan penting yang terkandung dalam kepemimpinan suatu kelompok dan fleksibel dalam pendekatan yang mereka gunakan untuk melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan tersebut yang dapat menyebabkan timbulnya motivasi yang dapat meningkatkan kinerja bawahannya.
Kepemimpinan transformasional mencakup tiga faktor yaitu:
a.       Charismatic leadership: pemimpin yang menghormati dan menginspirasi bawahan.
b.      Individualized consideration: pemimpin yang memperhatikan dan mendukung bawahan.
c.       Intellectual stimulation: pemimpin yang  memungkinkan bawahan untuk meningkatkan dan menyegarkan pemahaman dan kreativitas mereka.
Adapun tugas-tugas seorang pemimpin untuk memajukan perusahaannya untuk mencapai tujuan, diantaranya yaitu:
Pertama, seorang pemimpin bertugas mengadakan perencanaan hanya dapat membuat rencana tersebut dengan efektif kalau tujuan dari organisasi secara keseluruhan sudah diketahui atau ditentukan terlebih dahulu. Dengan demikian, tujuan itu merupakan dasar pembuatan suatu rencana.
Demikian juga dalam pelaksanaan tugas yang kedua, yaitu organizing, yakni penyusutan faktor-faktor produksi sedemikian rupa atau penentuan pembagian pekerjaan dalam perusahaan yang bersangkutan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga langkah-langkah tersebut benar-benar dapat merealisasi apa yang menjadi tujuan perusahaan. Dengan kata lain, aktivitas-aktivitas dari masing-masing bagian sudah dirinci secara bersama dan sasaran yang dituju benar-benar merupakan langkah-langkah menuju tujuan perusahaan secara keseluruhan.
Lebih nyata lagi dalam tugaas pimpinan yang ketiga, yakni staffing. Pemilihan dan penetapan tugas-tugas dalam perusahaan haruslah sedemikian rupa sehingga petugas dapat melakukan tugasnya sebaimana yang sudah ditentukan dalam fungsi organizing. Dengan kata lain, petugas-petugas dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari dibimbing atau dipimpin oleh tujuan perusahaan yang bersangkutan atau lebih tegas agi, petugas-petugas tersebut dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya adalah untuk tujuan perusahaan.
Seterusnya, perintah-perintah yang diberikan oleh atasan atau pimpinan kepada bawahannya, tugas directing haruslah tugas-tugas yang sedikit banyaknya terarah kepada apa yang menjadi objek perusahaan. Jadi, tujuan perusahaan merupakan alat atau standar bagi mereka yang mengawasi pelaksanaan tugas-tugas dari bawahan.


DAFTAR PUSTAKA

Bambang Darmadi, Kepemimpinan, Manajemen, dan Bisnis, Amara Book, Yogjakarta, 2005
Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004
 Hadri Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, Gadjah Mada University Press, Yogjakarta, 1993
Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, Rajawali, Jakarta, 1983
Manullang, Dasar-dasar Manajemen, Gadjah Mada University Press,Yogjakarta, 2002

MAKALAH Studi Kelayakan Bisnis

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam berbagai jenis bisnis yang dijalankan, tujuannya adalah untuk mencari keuntungan. Salah satu pilihan strategi yang dianggap marketable sekaligus profitable, adalah dengan sengaja mencantumkan label “Syari’ah” yang ditulis sebagai positioning bisnisnya. Namun dalam perjalanan bisnisnya, terkadang ada oknum tertentu yang menjalankan tanpa mempertimbangkan ketentuan-ketentuan syariah, seperti tidak memperdulikan masalah halal-haram ataupun kebiasaan menipu telah dijadikan rutinitas sehari-hari. Oleh karena itu dalam makalah ini akan memaparkan lebih lengkap tentang studi kelayakan bisnis syariah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimankah konsep studi kelayakan bisnis?
2.      Bagaimanakah bisnis syariah yang layak dan dianjurkan oleh Islam?
3.      Bagaimanakah bisnis yang tidak layak dan dilarang oleh Islam?
4.      Bagaimanakah stategi membangun mega bisnis?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Studi Kelayakan Bisnis
Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha atau bisnis yang akn dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan.
Aspek-aspek yang dinilai dalam studi kelayakn bisnis meliputi, aspek hukum, aspek pasar dan pemasaran, aspek keuangan, aspek teknis/operasional, aspek manajemen, aspek ekonomi dan social serta aspek dampak lingkungan.
a.       Aspek hukum
Dalam aspek ini yang dibahas adalah masalah kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari bentuk badan usaha sampai ke izin-izin yang dimiliki. Kelengkapan dan keabsahan dokumen sangat penting, karena hal ini merupakan dasar hukum yang harus dipegang apabila dikemudian hari timbul masalah.
b.      Aspek pasar dan pemasaran
Seberapa besar potensi pasar yang ada untuk produk yang ditawarkan dan seberapa besar market share yang dikuasai oleh para pesaing. Kemudian bagaimana strategi pemasaran yang akn dijalankan untuk menangkap peluang pasar yang ada.
c.       Aspek keuangan
Penelitian dalam aspek ini dilakukan untuk menilai biaya-biaya apasaja yang akan dihitung dan seberapa besar biaya-biaya yang akan dikeluarkan. Kemudian juga meneliti seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika proyek jadi dijalankan.
d.      Aspek teknis/operasi
Dalam aspek ini yang akan diteliti adalah lokasi usaha, baik kantor pusat, cabang, pabrik atau gudang. Kemudian penentuan lay-out gedung, mesin dan peralatan serta lay-out ruangan sampai kepada usaha perluasan selanjutnya. Penelitian mengenai lokasi meliputi berbagai pertimbangan, apakah harur dekat pasar, dekat bahan baku, dekat tenaga kerja, dekat pemerintahan, dekat lembaga keuangan, dekat dengan pelabuhan atau pertimbangan lainnya. Kemudian mengenai penggunaan teknologi apakah padat karya atau padat modal.
e.       Aspek manajemen/organisasi
Yang dinilai dalam aspek ini adalah para pengelola usaha dan struktur organisasi yang ada. Proyek yang dijalankan akan berhasil pabila dijalnkan oleh orang-orang yang professional, mulai dari merencanakan, melaksanakan sampai dengan mengendalikannya agar tidak terjadi penyimpangan. Demikian pula dengan struktur organisasi yang dipilih harus sesuai dengan bentuk dan tujuan usahanya.
f.       Aspek ekonomi sosial
Penelitian dalam aspek ekonomi adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan jika proyek tersebut dijalankan. Pengaruh tersebut terutama terhadap ekonomi secara luas serta dampak sosialnya terhadap masyarakat. Dampak ekonomi tertentu yaitu peningkatan pendapatan masyarakat,baik yang bekerja dipabrik atau masyarakat diluar lokasi pabrik. Demikian pula dampak social yang ada seperti tersedianya sarana dan prasarana.
g.      Aspek dampak lingkungan
Merupakan analisis yang paling dibutuhkan, karena setiap proyek yang dijalankan akan sangat besar dampaknya terhadap lingkungan disekitarnya, baik terhadap darat, air, dan udara, yang pada akhirnya akan berdampak terhadap kehidupan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan yang ada disekitarnya.
B.     Bisnis Syariah yang Layak dan Dianjurkan Oleh Islam
Islam sangat menjunjung tinggi nilai setiap usaha baik usaha mandiri (wirausaha) maupun bekerja pada orang lain, agar manusia dapat hidup sejahtera dengan kata kuncinya yaitu keberkahan. Orientasi keberkahan hanya bisa dicapai oleh dua syarat yaitu; niat yang ikhlas dan cara melakukan sesuai dengan tuntutan syari’at Islam. Dalam prespektif islam, bisnis yang diperbolehkan adalah bisnis yang menghasilkan pendapatan yang halal dan berkah. Berkaitan dengan pendapatan yang halal, maka kegiatan bisnis yang dijalankan pun harus halal. Maka dalam berbisnis harus menetapkan manajemen sistem jaminan halal sebagai penjamin kehalalan pada setiap lini.
Dengan menentukan dan menerapkan berbagai macam prosedur halal pada setiap lini, maka bisnis tersebut baru bisa dikatakan layak sesuai syariah.
Berikut adalah cara untuk menjalankan bisnis yang layak dan dianjurkan oleh Islam:

                                                Hindari


Haram & Subhat         Penipuan         Ketidakadilan             Perang Harga

C.     Bisnis yang Tidak Layak dan Dilarang Oleh Islam
Setiap usaha harus dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku agar tidak ada orang atau kelompok yang dirugikan. Dalam usaha tidak boleh menyimpang dari syariat islam maupun ketentuan umum yang berlaku dalam suatu Negara. Sesuatu yang dilarang oleh islam berdasar pada kedudukan hukumnya yaitu haram. Demikian pula usaha-usaha maksiat atau yang membantu terjadinya maksiat, penipuan dan pemaksaan dilarang oleh islam.
Beberapa jenis kegiatan bisnis yang dilarang oleh Islam antara lain:
1.      Memperlancar usaha dengan suap.
Penyuapan merupakan penyakit sosial yang kronis dan mengakibatkan terbentuknya masyarakat yang kurrang menghargai keahlian dan prestasi kerja. Islam dengan tegas melarang segala bentuk ketidakadilan termasuk suap, karena penyuap adalah mendorong orang untuk tidak berlaku adil dan ketidakadilan termasuk kebatilan.
2.      Mengurangi timbangan.
Mengurangi timbangan pada dasarnya adalah perbuatan curang ataupun menipu yang dilarang oleh Islam. Dalam dunia bisnis banyak tantangannya apalagi bila tidak dapat mengendalikan hawa nafsu duniawinya, manusia dapat terjebak ke dalam perbuatan curang. Rasulullah mengingatkan bahwa pedagang yang curang termasuk golongan pendurhaka, dan pedagang yang mencoba menyembunyikan ciri-atribut barang dagangannya maka akan dihapus berkahnya.
3.      Produksi dan jual beli barang haram
Setiap memproduksi makanan  dan minuman yang haram, maka tidak hanya haram dikonsumsi oleh dirinya sendiri, tetapi juga haram diperjualbelikan. Demikian juga dilarang memperjualbelikan barang-barang yang diperoleh dari hasil penjambretan, perampokan ataupun pencurian.
4.      Monopoli dan penimbunan barang
Praktik bisnis dalam bentuk menimbun dan menahan peredaran kebutuhan orang banyak dengan tujuan dapat menguasai perdagangan, dapat mempermainkan harga dan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya disebut monopoli. Cara semacam ini akan menguntungkan beberapa orang saja, tetapi merugikan hajat hidup orang banyak serta menghambat kebebasan berniaga dan berproduksi. 
5.      Perang harga
Islam melarang praktik bisnis dengan cara meninggikan atau melebihkan harga barang, untuk mengusik penjual yang lain.  Pengertian saling membenci dan saling bermusuhan adalah ketika praktik jual beli berharap agar volume penjualan lebih tinggi, maka produk dijual dengan harga yang lebih rendah, inilah perilaku yang akan memicu munculnya perang harga.

D.    Stategi Membangun Mega Bisnis Syari’ah
:


Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kesuksesan bisnis ditentukan oleh 80% faktor mindset, seperti penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan enterprenuership, kemampuan memanage, kemampuan berpikir analisis dan logis, menguasai teknologi dan IT/computing, team work, dan kemampuan komunikasi baik lisan maupun tertulis. Sedangkan yang 20% ditentukan oleh kemampuan teknis. Dalam membangun mega bisnis syariah selain membutuhkan komponen seperti yang tersebut di atas, tetapi juga memerlukan komponen-komponen penggerak dalam mengelola bisnis yang berorientasi syari’ah. Berikut adalah skema tujuh kunci sukses membangun mega bisnis syariah:
a)      Mudghah diartikan sebagai hati. Hati bagi manusia merupakan sumber pokok dalam menggerakkan segala aktivitas kebaikan maupu  keburukan. Dalam bisnis, dengan hati yang hidup, bening dan bersih, orang akan mampu mengelola bisnis dengan baik. Hati yang bersih dapat menjalankan roda bisnis dengan tawakkal kepada Allah atas segala dinamikanya. Hal tersebut yang dapat menjadikan salah satu faktor untuk memperoleh rezeki dari sumber yang halal, karena segala aktivitasnya dilandasi oleh niat baik, tanpa prasangka buruk, tanpa penipuan, tanpa kebohongan, semuanya ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. 
b)      Shiddiq diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran. Kejujuran dan kebenaran akan mendorong orang tahan uji, ikhlas, serta memiliki keseimbangan antara kecerdasan religius, kecerdasan piker dan emosional. Jika seorang businessman benar dan jujur dalam implementasi dan operasional bisnisnya, maka dapat mencapai tujuan bisnisnya dengan mudah, efektif dan efisien.
c)      Amanah diartikan sebagai bentuk perilaku seseorang yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menjadi tugas urusannya. Sifat amanah akan membentuk kredibilitas tinggi dan penuh tanggung jawab pada setiap individu muslim. Kelompok-kelompok individu yang memiliki sifat itu akan melahirkan masyarakat yang kuat untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan ekonomi. Usahawan yang amanah dikategorikan sebagai mukmin yang beruntung karena mampu memelihara amanah-amanah yang diberikan Allah kepadanaya dengan kosekuensi mengembalikan atau menyampaikan hak kepada pemilinya  (sedikit atau banyak), tidak mengambil lebih banyak dari hak yang memang miliknya, tidak mengurangi hak orang lain (baik berupa hasil penjualan, fee manajemen atau fee konsultan, jasa maupun upah).
d)     Tabligh diartikan komunikatif. Orang yang memiliki sifat tabligh akan menyampaikan pesan dengan benar, melalui tutur kata yang menyenangkan dan lemah lembut. Dalam dunia bisnis, usahawan harus mampu mengomunikasikan visi dan misinya dengan benar kepada stakeholdernya, mampu menyampaikan keunggulan-keunggulan produknya tanpa berbohong dan tidak menipu pelanggan. Usahawan harus menjadi seorang komunikator yang baik terhadap mitra bisnisnya.
e)      Fathanah diartikan sebagai kemampuan intelektual-cerdik, kreatif, berani, percaya diri, dan bijaksana. Oelh karena itu, seorang businessman  yang fathanah adalah seorang yang memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala sesuatu yang berhubungan dengan kewajiban dan tugasnya secara cerdas.
f)       Al- ikhsan yaitu melakukan yang terbaik, setiap muslim harus memiliki komitmen untuk berbuat sesuatu yang berbobot, yang berkualitas terbaik dalam segala sesuatu yang dikerjakan, apalagi untuk kepentingan umat maka diperlukan peningkatan kualitas kinerja secara continue (terus-menerus). Prinsip-prinsip umum dalam al-ikhsan yaitu; bekerja dengan lebih baik, menghindari cacat produk, membuat sistem pengawasan. Penguasaan ilmu pengetahuan, perbaikan secara terus menerus dan team work.
g)      Al- itqan diartikan sebagai sifat professional. Dengan sikap professional usahawan akan mampu membuat rancangan, mengelola dan mengorganisir secara teratur dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.



DAFTAR PUSTAKA
Ali Alkindi, Bekerja Sebagai Ibadah, Solo, Aneka, 1996.
Ali Hasan, Manajemen Bisnis Syariah ; Kaya di Dunia Terhormat di Akhirat, Yogyakarta, Pustaka Belajar, 2009.